Wednesday, April 8, 2009

Tiket ke Surga


Lama aku termenung, masyaallah. Pesan ini benar menusuk hatiku.

''Jangan biarkan kesempatan kalian terbuang percuma, saudara-saudaraku. Pemegang tiketku sudah lama tiada, dan aku benar-benar rindu padanya. Seandainya saja aku masih bisa melayaninya. Tapi, sekarang ini, aku hanya bisa berharap dan berdoa bahwa, entah bagaimana, sewaktu beliau masih hidup aku membuatnya bahagia.''

Kutipan ini diambil dari buku, Satu Tiket ke Surga, terjemahan Indonesia karya Zabrina A. Bakar yang diterbit asal dalam Inggeris, Life is an Open Secret. Pesan Sis Zabrina ini benar-benar mengingatku pada ibu.Ibuku masih hidup.

Sudah lama aku tidak bual-bual sama ibu, makan bersama pun seingat kali terakhir pada pagi raya.Oh, aku terlalu sibuk dengan Thailand, dengan politik. Ibu, adakah aku sudah membuat ibu bahagia.

Aku dikenal anak nakal, keras kepala,suka ambil risiko, yang selalu bikin ibu resah. Sekarang ini pun ibu selalu resah dengan kerja-kerja jurnalistikku. Aku ini kan selalu kritik kerajaan. Jika benar ibu resah kerana aku, maknanya aku belum lagi membahagiakannya. Masih jauh dengan tiket itu, tiket ke surga. Seperti kata akhir sabda Nabi(saw),..Teguhlah berbakti kepadanya kerena surga terletakdi bawah telapak kakinya.

Buku ini betul menggugah perasaan.Sudah lama aku mahu membaca buku seperti ini. Sebelum ini aku hanya lihat dengan tawar hati edisi asalnya, Life is an Open Secret di pasaran. Aku anggap ia seperti buku-buku lain, yang ditulis secret. Sehingga aku bertemu terjemahan Indonesia, Satu Tiket ke Surga, sejuk dengar.

Walaupun ia ditulis seperti untuk bacaan (atau untuk dibaca kepada)anak-anak kecil, namun si aku yang sedang tumbuh dewasa ini pun tertawan akan cerita-ceritanya. Yang pasti buku ini akan masuk ke dalam senarai buku-buku yang aku perlu bawa jika keluar jauh dari rumah, sebagai teman.

Teman yang menyedarkanku dengan pertanyaan ini;

''Jika kita sedang membaca dan ibu kita memanggil, apakah kita memintanya menunggu dengan berkata, ''sebentar,'' atau apakah kita langsung menutup buku dan datang kepadanya.''

Pertanyaan itu menerjah ke muka aku. Aduh!

Bagaimana dengan kalian, pembaca-pembaca buku?

16 comments:

CikLieYzaOnline said...

em,sedih pula mengenangkan ibu di rumah.kadang kala,kita terlupa bahawa kasih sayang ibu ada di mana2.tp kita sebagai anak,ingatkah kita pada ibu setiap masa?atau cuma mengingatinya tatkala sesuatu menyusahkan hidup kita?

Isma Ae said...

Ya,selalu kita lupa pada ibu.Benar, jika berlaku kesusahan barulah cepat terbayang wajah ibu --itu pengalaman saya.

Welma La'anda said...

salam,
Beli di mana buku ni. A'a sejuk perkataan tu, "Satu Tiket Ke Syurga". Tidak sangka pula terjemahannya Life Is Open Secret.

Iliana said...

salam..

wahh~ saya sangat gemar membaca..buku ini seperti menarik..insyaallah akan dicari nanti.

nampaknya, kamu juga pemartabat nahasa ibunda ya. sama-samalah kita (^_^)

hasni Jamali said...

Isma Ae,
terima kasih sudi melawat blog saya,
akan saya jawab pertanyaan anda di blog saya kemudian.
hmm, anda memang pencinta buku.
sejati bersama ilmu.
tahniah, kerana buku jadi duri dan madu buat anda. ya.

M.Iqbal Dawami said...

saya juga pernah menulis tentang ibu.Cuba baca di http://penulispinggiran.blogspot.com/2008/12/dia-yang-berada-di-balik-kesuksesan.html

Putera Cinta said...

tersentuh hati ini ketika membaca tulisan saudara..

ibu saya baru sahaja pergi menemui Illahi 29/03/09..
saat itu saya merasa dunia ini gelap gelita..
hanya tahu menangis saja...

saudara...
pergilah....
pergilah dapatkan ibumu...

(sebak dalam hati ini)

qunia said...

oh, baru saya teringat buku ini saya baca melalui e-book saja. sungguh menarik.
nak cari hardcopy tapi masih belum berjumpa.

Isma Ae said...

Kalian,
Saya belum habis baca buku ini, baru baca anekdot pertama, Cintailah Ibu.

Cik Welma,
Buku saya dapat di KB. Mungkin di sebelah utara ada juga dijual, pasti di Pesta Buku KL ada terjual. Rasa, terjemahn Indonesia lebih hidup, sejuk dan segar berbanding edisi asal dalam BI. Saya saran belilah terjemahan Indonesia (kalaulah ia diterbit dalam Bahasa Melayu).


Cik Iliana,
Memang menarik dan meruntun rasa. Saya yang keras ini pun terasa auranya.

Tentu, bahasa Melayu bahasa Ibunda kita. Siapa lagi hendak diharapkan selain kita.


Cik Hasni,
Mesti jawab dalam bentuk puisi.Ya, buku adakalanya buat kita ketawa, menangis, marah, geram dan juga mengantuk.

qunia said...

Saudara Isma,

oh tidak. saya memang baca yang versi indonesia. sememangnya saya ni pencinta buku-buku melayu indonesia.:)
dapat pun dari website ebook indonesia.

Isma Ae said...

Oh, begitu, lebih kurang saya lah. Juga minat dengan karya dari seberang berbanding dari Bangkok

Farida said...

Menarik cara kamu menulisnya..IBU

Isma Ae said...

Farida,
Biasa saja..

Noura Qalbi said...

Iya.. biasa saja...
(Maksudnya jangan puji/sanjung saya, karena saya malu kalau dipuji hehehe...)

Ae said...

Ya, benar. Saya ini pemalu..

pencinta bahasa said...

salam..
sebuah buku yang menarik..insyaallah akan saya cari di lawatan kedua ke Pesta Buku di PWTC..alhamdulillah, matlamat pertama utk mendapatkan tandatangan penulis kegemaran sudah tercapai dan saya sememangnya seorang pencinta buku..

p/s:kalau ibu saya memanggil pastinya buku harus diketepikan dahulu..