Lama aku termenung, masyaallah. Pesan ini benar menusuk hatiku.
''Jangan biarkan kesempatan kalian terbuang percuma, saudara-saudaraku. Pemegang tiketku sudah lama tiada, dan aku benar-benar rindu padanya. Seandainya saja aku masih bisa melayaninya. Tapi, sekarang ini, aku hanya bisa berharap dan berdoa bahwa, entah bagaimana, sewaktu beliau masih hidup aku membuatnya bahagia.''
Kutipan ini diambil dari buku, Satu Tiket ke Surga, terjemahan Indonesia karya Zabrina A. Bakar yang diterbit asal dalam Inggeris, Life is an Open Secret. Pesan Sis Zabrina ini benar-benar mengingatku pada ibu.Ibuku masih hidup.
Sudah lama aku tidak bual-bual sama ibu, makan bersama pun seingat kali terakhir pada pagi raya.Oh, aku terlalu sibuk dengan Thailand, dengan politik. Ibu, adakah aku sudah membuat ibu bahagia.
Aku dikenal anak nakal, keras kepala,suka ambil risiko, yang selalu bikin ibu resah. Sekarang ini pun ibu selalu resah dengan kerja-kerja jurnalistikku. Aku ini kan selalu kritik kerajaan. Jika benar ibu resah kerana aku, maknanya aku belum lagi membahagiakannya. Masih jauh dengan tiket itu, tiket ke surga. Seperti kata akhir sabda Nabi(saw),..Teguhlah berbakti kepadanya kerena surga terletakdi bawah telapak kakinya.
Buku ini betul menggugah perasaan.Sudah lama aku mahu membaca buku seperti ini. Sebelum ini aku hanya lihat dengan tawar hati edisi asalnya, Life is an Open Secret di pasaran. Aku anggap ia seperti buku-buku lain, yang ditulis secret. Sehingga aku bertemu terjemahan Indonesia, Satu Tiket ke Surga, sejuk dengar.
Walaupun ia ditulis seperti untuk bacaan (atau untuk dibaca kepada)anak-anak kecil, namun si aku yang sedang tumbuh dewasa ini pun tertawan akan cerita-ceritanya. Yang pasti buku ini akan masuk ke dalam senarai buku-buku yang aku perlu bawa jika keluar jauh dari rumah, sebagai teman.
Teman yang menyedarkanku dengan pertanyaan ini;
''Jika kita sedang membaca dan ibu kita memanggil, apakah kita memintanya menunggu dengan berkata, ''sebentar,'' atau apakah kita langsung menutup buku dan datang kepadanya.''
Pertanyaan itu menerjah ke muka aku. Aduh!
Bagaimana dengan kalian, pembaca-pembaca buku?